Selasa, 10 Maret 2009

Toeban riwayat doeloe

Tuban, dan Sejarahnya

Seperti halnya dengan kota-kota lain di Jawa
Nama ‘Tuban’ berasal dari sebuah sumber air pada umumnya sumber sejarah kota Tuban sangat tawar yang ditemukan di tempat tersebut. Bahan tulisan yang ada dan penuh dengan misteri ini membuat orang menamakannya ‘me(tu) (ban)yu”campuran antara sejarah dan legenda. Buku “Babad (keluar air). Sehingga tempat tersebut kemudianTuban” yang ditulis olehTanKhoenSwie(1936),dinamakan Tuban. Dulunya Tuban bernamaKambang Putih. Sudah sejak abad ke-11 sampai 15dalam berita-berita para penulis China (padajamandinasti Song Selatan 1127-1279 dan dinasti Yuan(Mongol) 1271-1368sampai jaman dinasti Mingth.1368-1644 5), Tuban disebut sebagai salahsatukota pelabuhan utama di pantai Utara pulau Jawa yang kaya dan banyak penduduk Tionghoanya. Cina menyebut Tuban dengan namaDubanataunamalainnya adalah Chumin. Pasukan Cina-Mongolia (tentara Tatar), yang pada th.1292datang menyerang Jawa bagian Timur (kejadian itu menyebabkan berdirinya kerajaanMajapahit)mendarat di pantai Tuban. Darisanapulalahsisa-sisa tentaranya kemudian meninggalkan P.Jawa untuk kembali ke negaranya6 (Graaf, 1985:164).Tapi sejak abad ke 15 dan 16 kapal-kapal dagang yang berukuran sedang saja sudah terpaksa membuang sauh di laut yang cukujauhdarigarispantai.Sesudah abad ke 16 itu memang pantai Tuban menjadi dangkal oleh endapan lumpur.Keadaan geografis seperti ini membuat kota Tuban dalamperjalanan sejarah selanjutnya sudah tidak menjadi kota pelabuhan yang penting lagi (Graaf,1985:163)Untuk mengurangi kesimpang siuran tentang hari jadi kota Tuban Bupati KepalaDaerah TingkatII Tuban (waktu itu dijabat Drs. DjoewahiriMartoprawiro), menetapkan tanggal 12 Nopember 1293 sebagai hari jadi kota Tuban. Panitia kecil yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah Tingkat II
Tuban waktu itu memberi alasan bahwa ditetapkannya tanggal tersebut karena bertepatan dengan diangkatnya Ronggolawe sebagai Adipati Tuban. Ronggolawe dianggap sebagai pahlawan bagi rakyat Tuban, dan dianggap sebagai Bupati pertama kota tuban.

Sekilas Tentang Tuban JATIM

Sekilas Tentang Tuban JATIM

Alon-Alon Tuban Jika Anda mampir ke kota TUBAN, jangan sampai Anda tidak membeli Batik Gedog, sebab kalau tidak, anda pasti menyesal. Batik Gedog salah satu produk unggulan, yang sudah melanglang ke mancanegara. Sentra industri di Desa Margorejo, Kecamatan Kerek, sekitar 35 kilometer ke arah barat pusat kota, menawarkan satu bentuk wisata tersendiri. Sambil berburu batik gedog, yang tahun 2002 produksinya 14.800 lembar, pengunjung dapat melihat proses pembuatan tenun khas Tuban yang didominasi motif burung dan bunga yang masih sangat tradisional: mulai pembuatan benang dari kapas, penenunan, hingga pembatikan.

Tuban juga terkenal dengan sebutan "Kota Seribu Goa". Sebagai daerah pesisir, Tuban yang konon merupakan salah satu pintu masuk menuju Kerajaan Majapahit itu juga kaya akan peninggalan zaman lampau yang kini menjadi daerah tujuan wisata. Antara lain terdapat makam Sunan Bonang, Museum Kambang Putih, Klenteng Kwan Sing Bio, yang dipercaya kelenteng tertua di Indonesia, Meskipun mitos ini belum pernah terbukti, tapi banyak orang-orang Tionghoa percaya. Kepiting sebagai simbol pada pintu gerbangnya, menjadi tempat wisata religius. Juga terdapat pemandian alam Bektiharjo dan pemandian air hangat Prataan. Selain itu juga terdapat wisata air terjun “Nglirip” dan pantai Tuban yang penuh memori berpotensi menyedot pengunjung.

Goa Akbar yang terletak di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, lebih kurang satu kilometer dari pusat Kota Tuban. Berbeda dengan umumnya goa yang kerap menimbulkan kesan menyeramkan dan dihuni banyak kelelawar, goa yang berada di bawah Pasar Baru, pasar utama Tuban, tersebut dikembangkan sebagai obyek pariwisata yang menawarkan kesejukan, kenyamanan, dan keindahan tersendiri. karena guanya luas, tempat ini lebih tertata sehingga terkesan menarik. Dalam sehari ribuan wisatawan yang sebagian besar wisatawan lokal berkunjung ke tempat ini.

Belum ditambah dengan wisata kulinernya, Kota Tuban juga mempunyai makanan dan minuman khas yang sangat menggoda dan dijamin pasti ingin mencicipinya kembali, seperti Rajungan, Pepes belut, Pepes Kodok, Ayam Panggang Bektiharjo, dan untuk minumannya yang sangat menggoda yaitu “Legen”, yang konon bisa meluruhkan sakit batu ginjal. Minuman Legen merupakan minuman khas daerah Tuban terbuat dari air dahan pohon Siwalan yang banyak bertebaran di daerah Tuban dengan tanpa dilakukan fermentasi, rasanya manis khas, segar dan enak, sekali mencicipi pasti dijamin ingin mencicipinya kembali. Tapi sayang, ada beberapa oknum yang sengaja mencampurnya, sehingga rasanya menjadi lain, jadi bagi para wisatawan yang sengaja berkunjung ke kota kami Tuban tercinta, apabila ingin merasakan Minuman Legen asli mesti selektif dan nanya nanya terlebih dahulu kepada masyarakat setempat, dijamin mereka pasti tau dimana bisa mendapatkan Legen asli, dan biasanya membelinya langsung datang kerumah orang yang berjualan. Minuman Legen lebih enak lagi apabila didapatkan pada musim kemarau. Minuman ini sangat cocok sekali apabila dihidangkan dingin-dingin atau diberi es batu. Apabila anda-anda ingin berkunjung ke kota kami atau sekedar ingin melepas lelah dalam perjalanan dan berhenti ke kota kami, jangan lupa untuk rajin bertanya apabila ingin mendapatkan wisata kuliner kota Tuban, dijamin wisata kuliner kota Tuban sangat menyenangkan dan anda akan merasa puas.
Apabila anda sudah puas dengan wisata kulinernya, anda juga bisa mendapatkan oleh-oleh produk olahan laut, sebab Tuban mempunyai produk olahan laut yang sangat layak untuk dijadikan oleh-oleh atau dikonsumsi sendiri, seperti Terasi Tuban, Petis Ikan, Petis Udang, Kerupuk Udang, dan ikan Teri.

Meskipun mempunyai beberapa produk unggulan, secara umum usaha pertanian Tuban, yang menduduki peringkat pertama penyumbang kegiatan ekonomi Tuban tahun 2002 dengan nilai Rp 124,8 miliar, masih bersandar pada produksi tanaman pangan, terutama padi dan jagung. Kacang tanah dari Tuban juga sudah terkenal dari dulu, bahkan di kota besar seperti Jakarta kacang dari Tuban mempunyai harga paling tinggi di banding dengan kacang dari daerah lain atau bahkan kacang impor, sebab Kacang tanah Tuban bentuknya tidak terlalu besar namun gurih dan manis rasanya walaupun sudah diolah sekalipun, warna kacang tanah Tuban tetap menarik.

Kekayaan hasil laut dari wilayah yang populasi sapi potongnya termasuk empat besar di Jatim itu juga terbilang menggembirakan. Selain tanaman pangan, ekspor berbagai komoditas kelautan cukup berarti nilainya, seperti udang sekitar Rp 5,4 miliar dan teri senilai Rp 46,2 miliar. Tak ayal, ekspor hasil laut ke Singapura, Jepang, Korea, dan Cina menjadi pemasok yang cukup besar bagi sektor pertanian.
Oleh karena itu, meski mempunyai cukup banyak potensi industri olahan, seperti legen dan makanan olahan lain dari Kecamatan Tuban dan Semanding atau gerabah hias di Kecamatan Semanding dan Parengan, kebanyakan hasil industri kecil dan menengah Tuban masih berbicara di tingkat lokal. distribusinya pun hanya menjangkau empat pasar tradisional dan satu pasar hewan.
Sesuai pergeseran peruntukan Tuban dari daerah agraris menjadi daerah industri yang strategis, Pemda Kabupaten Tuban menata wilayah-wilayah industri dengan wilayah pertanian sebagai penyeimbang. Lima kecamatan yang diperuntukkan bagi kawasan industri, yaitu Palang, Tuban, Jenu, Tambakboyo, dan Bancar, akan ditopang 14 kecamatan lainnya sebagai kawasan hijau.

Dilihat dari segi Obyek wisata dan Geografis, kota Tuban sangat berpotensi menyedot wisatawan, sebab Tuban berada pada jalur Pantura yang memudahkan wisatawan untuk berkunjung ke Kota Tuban.

Hasil Olahan Laut sampai Minyak Bumi

DILIHAT dari karakteristik geografis dan potensi alamnya, Kabupaten Tuban tidaklah jauh berbeda dengan daerah lainnya yang berada di pesisir pantai utara Jawa Timur, seperti Kabupaten Gresik dan Lamongan. Selain memiliki daerah pantai yang cukup panjang, yakni sekitar 65 kilometer, wilayah Tuban juga terdiri dari gunung-gunung kapur dan hutan jati yang saat ini sudah mulai habis.
Dengan kondisi alam yang demikian, maka tak heran potensi daerah Tuban menjadi cukup luas, mulai dari laut sampai daratan. Salah satu hasil kekayaan laut Kabupaten Tuban yang sudah dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor adalah potensi ikan teri nasi.
Pengolahan ikan teri yang terdapat di daerah pantai, seperti di Kecamatan Palang, Jenu, Tambakboyo, dan Bancar, hasilnya sudah diekspor ke Jepang. Tidak main-main, kapasitas produksinya mencapai 130 ton dengan nilai produksi mencapai Rp 3,4 miliar per tahun.

Tak berbeda dengan kekayaan alam lautnya, potensi perut bumi Tuban juga cukup besar. Salah satu di antaranya adalah minyak bumi. Di wilayah Tuban saat ini sedikitnya terdapat sekitar enam daerah yang memiliki cadangan minyak dan gas (migas) yang akan dan sedang dieksploitasi. Beberapa daerah itu di antaranya di Kecamatan Singgahan dengan 20 sumur yang sebagian sumurnya telah dieksploitasi, yaitu Bangilan, Bukar, Parengan, Jenu, Mudi, dan Rengel.
Selain Mobil Oil, perusahaan eksplorasi dan eksploitasi migas yang sudah cukup lama beroperasi di Tuban, yaitu Devon Oil dan JOB Pertamina, serta perusahaan migas dari Cina, Petrochina.

Eksplorasi dan eksploitasi migas di Tuban tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga di lepas pantainya. Pertamina memprediksikan terminal transit bahan bakar minyak di Tuban akan beroperasi tahun 2009. Terminal transit ini dimaksudkan untuk menjamin pasokan bahan bakar minyak ke wilayah Jawa Timur dengan pemasangan pipa aliran bahan bakar minyak dari Tuban ke Surabaya yang panjangnya mencapai 140 kilometer. Lokasi terminal transit di Tuban seluas 40 hektar adalah dengan tangki timbun berkapasitas 450.000 kiloliter karena kondisi daerah Tuban dinilai lebih sesuai dan tidak terlalu jauh dari Surabaya.
Besarnya potensi alam yang dimiliki Kabupaten Tuban memang telah mengundang sejumlah industri untuk berinvestasi di Tuban. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban tampaknya sadar benar akan potensi daerahnya. Hal ini dapat dilihat dari Rencana Tata Ruang Kawasan Industri (RTRKI) yang disusun. Pemkab Tuban akan menyediakan zona industri seluas 49.210 hektar atau 26,74 persen dari luas seluruh wilayah Kabupaten Tuban.
Menurut informasi yang diperoleh dari Pemkab Tuban, luas areal yang sudah termanfaatkan untuk industri sekitar 29.223 hektar sehingga masih ada sekitar 20.097 hektar lahan yang belum digunakan.

Sejarah Nglirip

Dec

AIR TERJUN NGLIRIP RIWAYATMU KINI….

Posted in wisata air terjun by wisatanews on December 17th, 2008

INILAH nasib destinasi di Indonesia. Air terjun Nglirip di Desa Mulyoagung Kecamatan Singgahan, Tuban, Jawa Timur, contohnya. Obyek wisata ini, dulu jadi kebanggaan daerah. Promosi digencarkan. Wisatawan domestik banyak yang datang. Masyarakat di sekitar obyek wisata pun merasakan dampak positifnya.
Memang, pemandangan wisata air terjun ini sangat teduh, sejuk, indah dan menawan. Airnya yang jernih, mengalir begitu derasnya. Juga di balik air terjun itu, ada sebuah goa yang cukup besar. Konon goa ini sering dipakai tempat semedi untuk mencari ilmu.
Cerita lain lagi, dulu di dalam goa ini pernah dihuni seorang wanita cantik yang menanti kekasihnya yang pernah kunjung datang. Cerita wanita itu memang misteri dan sampai kini masih menjadi teka-teki, sehingga keberadaan goa itu pun menjadi sebuah misteri.
Namun kondisi saat ini, panorama alam yang menawan dipadu dengan derasnya kucuran air sungai yang turun bebas dari ketinggian 30 meter, hanya tinggal kenangan. Jumlah turis lokal yang datang grafiknya merosot drastis, apalagi wisatawan mancanegara jangan harap akan datang.
Berkurangnya minat berwisata ke air terjun itu, memang banyak penyebabnya. Antara lain, ditutupnya obyek wisata minat khusus, Goa Putri di Desa Nguluhan, Kecamatan Montong Tuban, lantaran kondisi tanah di sekitar goa sangat labil, rawan longsor.
Penutupan goa yang jaraknya hanya sekitar 7 Km dari air terjun ini, pengaruhnya sangat besar. Mengingat, selama ini wisatawan yang datang ke obyek wisata alam Nglirip, pasti mampir ke Goa Putri. Atau sebaliknya.
Penyebab lainnya, air terjun Nglirip kalah bersaing dengan obyek wisata baru yang bermunculan di Tuban, maupun daerah tetangganya, Lamongan yang aktif mempromosikan obyek wisata bahari Tanjung Kodok, Goa Maharani, Kebun Binatang mini dan Makam Sunan Drajat, salah satu dari Sembilan Wali (Walisongo).
Dengan bermunculan destinasi baru itu, Pemda agaknya sudah tak pernah gembor-gembor lagi promosi air Terjun Nglirip dan Goa Putri yang masih alami. Kabarnya, dua destinasi itu sudah tidak menjadi obyek wisata unggulan lagi.
Namun demikian, warga sekitar obyek wisata itu terus berjuang untuk mengembalikan kejayaan air terjun dengan menggratiskan wisatawan yang berwisata di air terjun. Cuma kena jasa uang parkir Rp 3.000 bagi roda empat. Sayangnya, langkah itu tetap kurang diminati wisatawan untuk datang. Siapa yang peduli? (endy/foto:ist))

Leave a Reply

BATIK GEDOG

Ditenun secara tradisional, dibatik dengan warna alam. Unik dan berciri khas. Tak hanya warga lokal yang suka, tapi juga turis mancanegara.

"Dog..., dog..., dog..., dog...," suara kayu yang saling beradu terdengar di sudut desa, dibalik rumah-rumah penduduk di Kecamatan Kerek Tuban. Berirama pelan bagai ketukan drum, tiap lima detik. Sesekali suara itu berhenti, menghadirkan kesenyapan. Tak lama, suara itu terdengar lagi, menghadirkan ritme yang sama.
Ya, suara itu bersumber dari sebuah alat tenun yang terbuat dari kayu jati, yang dihentakkan. Sepasang tangan perempuan tampak sangat terampil memainkan alat tenun tradisional dan sederhana, yang sudah puluhan tahun usianya. Kedua belah tangannya menghentakkan alat tenun, sambil sesekali menata puluhan benang yang berjajar rapi, siap ditenun menjadi sehelai kain.
Sumirah, warga Desa Margorejo Kecamatan Kerek, Tuban yang berada di balik alat tenun itu bertutur, setiap kali alat tenun itu digunakan untuk menenun benang akan menghasilkan suara dog... dog... yang terdengar sangat khas. "Makanya, kain tenun yang dihasilkan diberi nama tenun gedog," katanya dengan logat Jawa kental, sambil tersenyum.
Sambil terus menenun, Sumirah, 70 tahun, bercerita dirinya telah ditinggalkan suaminya sejak puluhan tahun lalu. Ia memiliki seorang anak yang kini sudah berputra satu. Berkali-kali sang anak mengajaknya hidup satu rumah. Tapi Sumirah menolaknya. Ia memilih tetap hidup sendiri di rumahnya yang juga sudah tua, sambil terus membuat tenun gedog sebagai penyambung hidupnya yang kian renta.
“Saya tidak punya sawah, juga sudah tidak kuat buruh di sawah. Jadi, satu-satunya yang bisa saya kerjakan ya menenun,” katanya lagi. Saat itu, dia sedang nggarap pesanan seorang pedagang, sepanjang enam meter. Dalam kondisi normal, ukuran itu biasanya bisa diselesaikan dalam tiga atau empat hari. Tapi dalam kondisinya sekarang, Sumirah baru bisa menyelesaikan dalam waktu tidak tentu. Kadang seminggu bahkan sepuluh hari.
Hasil kain tenun sepanjang enam meter itu dihargai Rp 60 ribu. “Beli bahannya saja Rp 15 ribu. Kalau dibeli dengan harga Rp 60 ribu berarti cuma dapat Rp 15 ribu,” katanya merinci. Padahal, menenun diakuinya sangat rumit prosesnya. Mulai mengulur benang, membagi benang sesuai warna dan merajutnya tiap helai, memasangnya pada alat tenun sampai proses tenun sangat panjang dan rumit. Dan itu dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Jika tidak biasa, rasanya tidak akan sanggup mengerjakannya.

Potret
Tapi, pekerjaan itu dilakoni Sumirah dengan lapang dada. Baginya, menenun kain gedog bukan semata pekerjaan. Namun sekaligus sebagai pelestarian tradisi, turun-temurun yang entah dimulai sejak kapan. Sejak Sumirah masih kecil pun pekerjaan tenun-menenun sudah ada sebelumnya.
Hingga kini, apa yang dilakukan Sumirah adalah potret dari kegiatan banyak perempuan di Kecamatan Kerek. Di Tuban, Kecamatan Kerek merupakan pusat pembuatan kain tenun. Konon, di tahun 2000-an, jumlah perajin tenun mencapai 1.500-an orang, tersebar di desa-desa. Saat itu, kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik se-Kecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.
Namun pada perkembangannya, perajin di desa-desa se-Kecamatan Kerek, seperti Kedungrejo, Margorejo, Jarorejo, Karanglo, Margomulyo, Temayang, Wolutengah dan Gaji, jumlahnya makin menyusut. Ditaksir perajin yang tersisa hanya sekitar 1000 orang. Jumlah itupun termasuk perajin baru yang tersebar di desa Bongkol dan Semanding Merakurak, Tuban.
Menurut Sumirah, batik gedog sebenarnya hampir punah. Ini disebabkan orang sudah tidak suka lagi memintal benang. "Kalau membatik, orang masih senang. Tetapi memintal benang, sangat jarang orang mau. Paling hanya ibu-ibu tua yang mau karena sudah tidak kuat lagi ke ladang. Tetapi, untuk membatik matanya juga sudah tidak mampu. Mungkin karena itulah sehingga orang enggan memintal benang," katanya.
Bagi warga desa di Kecamatan Kerek, pekerjaan utamanya adalah bertani. Sedangkan batik dibuat hanya untuk mengisi waktu luang, saat tanaman sudah ditanam, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu panen saja. "Saat musin tanam atau panen, tidak ada yang menenun atau membatik. Semua sibuk di sawah seperti sekarang ini," ujarnya. Saat itu memang agak susah menemui perajin. Hanya satu dua yang kelihatan tekun menenun atau membatik, lainnya rata-rata sedang tidak di rumah, sibuk di sawah.
Namun belakangan batik gedog sudah mulai menggeliat. Benang pintalan sudah tersedia dalam bentuk jadi, tinggal menenun. Para pembatik Tuban juga mulai menyadari bahwa batiknya unik dan cocok dengan selera masyarakat, tidak terkecuali kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara.

Motif Unik
Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.
Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar. Menurut Aslichah, 45 tahun, pedagang Batik Tulis Gedog, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. "Kalau seser berukuran panjang dua meter, taplak panjangnya satu meter, sedangkan putihan sepanjang tiga meter," katanya.
Selain panjang kain yang beragam, setiap kain juga mempunyai kerapatan tenunan yang berlainan. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya, kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin.
"Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunannya rapat dan kainnya lemas," ujar isteri HM Sholeh itu. Rahasia membuat variasi kerapatan hasil tenunan, ungkap guru agama itu, adalah dari cara menghentakkan kayu bagian alat tenun. Semakin keras dihentakkan, maka kerapatannya akan semakin tinggi.
"Salur warna-warni dalam selembar kain dihasilkan dari benangnya, bukan dari celupan," ucapnya. Setiap kali akan menenun, setiap benang sudah diberi warna sendiri, sehingga warna yang dihasilkan dalam setiap helai kain merupakan "warna asli" kain itu.
Hal ini berbeda dengan beberapa jenis kain tenun yang pewarnaannya dilakukan usai kain selesai ditenun. "Khusus untuk tenun gedog batik, proses pembatikan dilakukan setelah kain putihan selesai ditenun. Prosesnya sama seperti membatik kain biasa," tambahnya.
Aslichah sendiri terus mengasah ide dan terus mengembangkan warna alam untuk batik buatannya. Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, percobaan demi percobaan dilakukannya. Inovasi untuk melahirkan warna alam sesuai dengan warna aslinya terus dimunculkan. "Semua daun, pohon serta tumbuhan sudah saya coba untuk mencari warna alam yang benar-benar alami. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelap-gelapan dan warna ini saya pertahankan sebagai identitas batik gedog Tuban," tuturnya.
Diceritakan, aslinya batik gedog Tuban berasal dari benang yang ditenun dengan cara tradisional. Kemudian kain hasil tenunan itu diberi batik dengan motif-motif khas seperti yang berkembang sekarang. “Karena itulah kemudian, batik itu dinamakan batik gedog,” ujarnya.
Meski diakui masih banyak kendala, Aslichah merasa sudah mantap untuk terus menggeluti dunia batik. “Batik gedog tidak akan pernah punah,” kata ibu empat anak yang telah memulai usaha batik sejak sekitar 17 tahun lalu. Bahkan, menurut keyakinannya, batik tulis gedog akan semakin dikenal dan memasyarakat karena proses pembuatannya unik dibanding dengan batik tulis lain yang tinggal membatik di atas selembar kain produksi pabrik.
"Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti panjiori, kenongo uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila malah dinyakini bisa menyembuhkan penyakit," ujarnya.
Motif-motif batik seperti itu, pada perkembangannya tak lagi pada kain tenun gedog semata. Oleh para perajin kemudian dikembangkan pada bahan-bahan kain lainnya, seperti kain katun dan lain-lain. “Itu merupakan salah satu tuntutan untuk memenuhi selera konsumen,” tambahnya.
Kalau semula kain batik tenun gedog terbatas hanya bisa dibuat untuk taplak meja, selendang, kemeja, kini sudah berkembang menjadi motif batik untuk kaos, daster dan pakaian wanita lainnya. Pada perkembangannya pula, menurut Aslichah, justru konsumen lokal banyak yang mencari batik kaos dan semacamnya. Sementara batik tenun gedog banyak dicari konsumen dari Bali atau turis mancanegara.

Pengembangan Pasar
Keunikan batik khas secara kualitas terus membaik. Bahkan menurut Suwoto, pedagang batik asal Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, pemerintah daerah Tuban menetapkan bahwa batik gedog Tuban sudah memenuhi kualitas ekspor. Negara yang menjadi langganan batik gedog Tuban sementara ini adalah Jepang. Selain itu, dalam jumlah kecil, negara seperti Australia dan Belanda juga sering memborong.
Hal itu, menurutnya, tidak terlepas dari keinginan masyarakat sendiri yang ingin mengenalkan batik gedog kepada masyarakat luar. Disamping juga pemerintah sendiri telah banyak membantu untuk pengembangan batik di Tuban. Bantuan itu mulai dari pelatihan-pelatihan, manajemen hingga pendanaan.
Suwoto, yang sudah memulai usaha batik sejak 1988, merasa terbantu ketika mendapat sokongan dana dari pemerintah senilai Rp 13 juta pada 2002 lalu. Modal itu kemudian dikembangkan Suwoto dengan memproduksi banyak batik. Suwoto mengaku, dirinyalah yang memulai membuat modifikasi batik ke kain-kain selain kain tenun gedog.
Seperti kaos dan daster ia buat batik ketika yang lain masih berkutat dengan batik tenun gedog. Saat itu sambutan pasar di luar perkiraan, sangat positif. Sehingga tak ayal, model modifikasi seperti itu diikuti oleh perajin dan pedagang batik tulis lainnya di Kecamatan Kerek.
Hingga kini, batik tulis produksinya sudah merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bali dan kota-kota lain di Jawa Timur. “Di Jakarta dan Bali kebetulan ada teman punya galeri dan minta dipasok batik tulis Tuban,” ungkapnya. Selain di kota-kota tersebut, pedagang yang didukung 57 perajin itu, juga gencar memasarkan batik karyanya di tempat-tempat wisata di Tuban. “Pedagang lain juga seperti itu, mereka juga buka dagangan di tempat-tempat wisata di Tuban, seperti di Bonang, dan lain-lain,” ucap wanita berjilbab yang punya tiga toko batik tulis gedog ini.
Namun, belakangan bantuan dari pemerintah itu tidak lagi mengucur, sehingga tingkat produksinya kembali menurun. Kondisi itu rupanya juga dialami banyak pedagang batik tulis gedog di Tuban. “Rata-rata mereka mengeluhkan kondisi yang sama. Katanya kalau bantuan itu sudah dikembalikan, maka pedagang bisa mendapat pinjaman lagi, tapi nyatanya tidak ada,” katanya, tandas.
Selain itu, pemerintah juga mewadahi para pedagang yang ingin memajang batik tulis karyanya dalam berbagai pameran. Baik pameran yang diadakan oleh pemerintah di Tuban, maupun di kota-kota lain. Suwoto sendiri kerap mengikuti pameran, seperti di Surabaya, Bali bahkan Yogyakarta. “Pameran itu bagian dari promosi kami, meski antara biaya pameran sering tidak nyucuk (sesuai, red) dengan pendapatan,” katanya. Yang penting, baginya, batik tulis gedog bisa dikenal masyarakat luas.

Seragam Dinas
Ujud kepedulian pemerintah Tuban lainnya adalah dengan adanya anjuran kepala daerah terhadap jajaran pemerintahannya. Menurut Aslichah, istri HM Soleh, Bupati Tuban menganjurkan kepada seluruh dinas untuk memakai seragam bermotif batik tulis khas Tuban. Memang kemeja yang dibuat bukan dari kain tenun gedog, tapi kain katun yang dibatik dengan batik tulis Tuban.
Diakui, adanya anjuran itu banyak memberi peluang kepada pedagang untuk melebarkan pasar ke berbagai ceruk potensial. Juragan yang dibantu 10 lebih tukang jahit itu, setiap tahun selalu kebanjiran order dari dinas-dinas. “Jumlahnya mencapai ribuan,” ungkapnya singkat. Bahkan, diakui, kalau kewalahan dia memborongkannya kepada tukang-tukang jahit kenalannya.
Anjuran kepala daerah itu bukan isapan jempol. Sebab, setiap Jumat para pejabat dari semua jajaran memakai seragam batik tulis Tuban. Selain para pejabat, PT Semen Gresik di Tuban juga punya program memakai seragam untuk seluruh karyawan. Biasanya dalam dua tahun sekali perusahaan semen itu memesan batik tulis Tuban. Jumlah pesanannya juga tidak main-main, Sekali pesan bisa mencapai 1.500 potong. Tapi belakangan jumlah pesanannya berkurang, hingga 1.200 saja.
Selain itu, pengurus Koperasi Kebonharjo milik Perhutani, juga memesan batik tulis untuk seragam anggotanya. “Banyak anggota koperasi di Tuban yang juga memesan batik tulis untuk dibuatkan seragam. Jumlah pesanan biasanya antara 300-500 potong,” tambahnya. Bahkan sekolah-sekolah mulai SD sampai tingkat menengah, juga menggunakan seragam berbatik tulis Tuban. Memang jumlahnya tidak banyak, “Biasanya sekitar 50-an potong untuk tiap tahunnya.” Namun diakui, model pesanan seperti itu banyak mendatangkan rezeki lebih kepada pedagang. Hanya saja, aku Aslichah, dirinya masih mengharapkan ada pesanan yang pasti, dalam tiap bulannya.
“Kalau ada seperti itu, usaha ini bisa ajeg pemasukannya. Sehingga kita tinggal mengembangkan pasar yang lebih luas, ke luar daerah atau bahkan mungkin ke luar negeri,” harapnya. “Hingga kini model pemasarannya hanya menunggu pembeli datang. Banyak juga pembeli dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jakarta, Surabaya dan Malang. Kebanyakan mereka yang datang ke sini, bukan kita yang menawarkan hingga ke luar daerah.” Namun, dirinya tetap akan berproduksi batik tulis gedog Tuban dalam kondisi apapun. ”Selagi punya duit untuk beli bahan, dan sanggup menggaji karyawan, saya akan terus membatik,” katanya tandas. -hm

Jumat, 06 Maret 2009

Asal Usul Tata Surya


Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :

Hipotesis Nebula :
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.

Hipotesis Planetisimal :
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.

Hipotesis Pasang Surut Bintang :
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.


Hipotesis Kondensasi :
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.


Hipotesis Bintang Kembar :
Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.

Diantara semua itu, yg paling terkenal adalah "TEORI BIG BANG"

Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran yang dilakukannya tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.

Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:

1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
3. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.

Perubahan di bumi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca.



Kesimpulan
Ada dua kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan mengenai proses terbentuknya bumi, yaitu:

1. Bumi berasal dari suatu gumpalan kabut raksasa yang meledak dahsyat, kemudian membentuk galaksi dan nebula. Setelah itu, nebula membeku membentuk galaksi Bima Sakti, lalu sistem tata surya.Bumi terbentuk dari bagian kecil ringan yang terlempar ke luar saat gumpalan kabut raksasa meledak yang mendingin dan memadat sehingga terbentuklah bumi.

2. Tiga tahap proses pembentukan bumi, yaitu mulai dari awal bumi terbentuk, diferensiasi sampai bumi mulai terbagi ke dalam beberapa zona atau lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.