Selasa, 10 Maret 2009

BATIK GEDOG

Ditenun secara tradisional, dibatik dengan warna alam. Unik dan berciri khas. Tak hanya warga lokal yang suka, tapi juga turis mancanegara.

"Dog..., dog..., dog..., dog...," suara kayu yang saling beradu terdengar di sudut desa, dibalik rumah-rumah penduduk di Kecamatan Kerek Tuban. Berirama pelan bagai ketukan drum, tiap lima detik. Sesekali suara itu berhenti, menghadirkan kesenyapan. Tak lama, suara itu terdengar lagi, menghadirkan ritme yang sama.
Ya, suara itu bersumber dari sebuah alat tenun yang terbuat dari kayu jati, yang dihentakkan. Sepasang tangan perempuan tampak sangat terampil memainkan alat tenun tradisional dan sederhana, yang sudah puluhan tahun usianya. Kedua belah tangannya menghentakkan alat tenun, sambil sesekali menata puluhan benang yang berjajar rapi, siap ditenun menjadi sehelai kain.
Sumirah, warga Desa Margorejo Kecamatan Kerek, Tuban yang berada di balik alat tenun itu bertutur, setiap kali alat tenun itu digunakan untuk menenun benang akan menghasilkan suara dog... dog... yang terdengar sangat khas. "Makanya, kain tenun yang dihasilkan diberi nama tenun gedog," katanya dengan logat Jawa kental, sambil tersenyum.
Sambil terus menenun, Sumirah, 70 tahun, bercerita dirinya telah ditinggalkan suaminya sejak puluhan tahun lalu. Ia memiliki seorang anak yang kini sudah berputra satu. Berkali-kali sang anak mengajaknya hidup satu rumah. Tapi Sumirah menolaknya. Ia memilih tetap hidup sendiri di rumahnya yang juga sudah tua, sambil terus membuat tenun gedog sebagai penyambung hidupnya yang kian renta.
“Saya tidak punya sawah, juga sudah tidak kuat buruh di sawah. Jadi, satu-satunya yang bisa saya kerjakan ya menenun,” katanya lagi. Saat itu, dia sedang nggarap pesanan seorang pedagang, sepanjang enam meter. Dalam kondisi normal, ukuran itu biasanya bisa diselesaikan dalam tiga atau empat hari. Tapi dalam kondisinya sekarang, Sumirah baru bisa menyelesaikan dalam waktu tidak tentu. Kadang seminggu bahkan sepuluh hari.
Hasil kain tenun sepanjang enam meter itu dihargai Rp 60 ribu. “Beli bahannya saja Rp 15 ribu. Kalau dibeli dengan harga Rp 60 ribu berarti cuma dapat Rp 15 ribu,” katanya merinci. Padahal, menenun diakuinya sangat rumit prosesnya. Mulai mengulur benang, membagi benang sesuai warna dan merajutnya tiap helai, memasangnya pada alat tenun sampai proses tenun sangat panjang dan rumit. Dan itu dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Jika tidak biasa, rasanya tidak akan sanggup mengerjakannya.

Potret
Tapi, pekerjaan itu dilakoni Sumirah dengan lapang dada. Baginya, menenun kain gedog bukan semata pekerjaan. Namun sekaligus sebagai pelestarian tradisi, turun-temurun yang entah dimulai sejak kapan. Sejak Sumirah masih kecil pun pekerjaan tenun-menenun sudah ada sebelumnya.
Hingga kini, apa yang dilakukan Sumirah adalah potret dari kegiatan banyak perempuan di Kecamatan Kerek. Di Tuban, Kecamatan Kerek merupakan pusat pembuatan kain tenun. Konon, di tahun 2000-an, jumlah perajin tenun mencapai 1.500-an orang, tersebar di desa-desa. Saat itu, kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik se-Kecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.
Namun pada perkembangannya, perajin di desa-desa se-Kecamatan Kerek, seperti Kedungrejo, Margorejo, Jarorejo, Karanglo, Margomulyo, Temayang, Wolutengah dan Gaji, jumlahnya makin menyusut. Ditaksir perajin yang tersisa hanya sekitar 1000 orang. Jumlah itupun termasuk perajin baru yang tersebar di desa Bongkol dan Semanding Merakurak, Tuban.
Menurut Sumirah, batik gedog sebenarnya hampir punah. Ini disebabkan orang sudah tidak suka lagi memintal benang. "Kalau membatik, orang masih senang. Tetapi memintal benang, sangat jarang orang mau. Paling hanya ibu-ibu tua yang mau karena sudah tidak kuat lagi ke ladang. Tetapi, untuk membatik matanya juga sudah tidak mampu. Mungkin karena itulah sehingga orang enggan memintal benang," katanya.
Bagi warga desa di Kecamatan Kerek, pekerjaan utamanya adalah bertani. Sedangkan batik dibuat hanya untuk mengisi waktu luang, saat tanaman sudah ditanam, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu panen saja. "Saat musin tanam atau panen, tidak ada yang menenun atau membatik. Semua sibuk di sawah seperti sekarang ini," ujarnya. Saat itu memang agak susah menemui perajin. Hanya satu dua yang kelihatan tekun menenun atau membatik, lainnya rata-rata sedang tidak di rumah, sibuk di sawah.
Namun belakangan batik gedog sudah mulai menggeliat. Benang pintalan sudah tersedia dalam bentuk jadi, tinggal menenun. Para pembatik Tuban juga mulai menyadari bahwa batiknya unik dan cocok dengan selera masyarakat, tidak terkecuali kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara.

Motif Unik
Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.
Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar. Menurut Aslichah, 45 tahun, pedagang Batik Tulis Gedog, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. "Kalau seser berukuran panjang dua meter, taplak panjangnya satu meter, sedangkan putihan sepanjang tiga meter," katanya.
Selain panjang kain yang beragam, setiap kain juga mempunyai kerapatan tenunan yang berlainan. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya, kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin.
"Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunannya rapat dan kainnya lemas," ujar isteri HM Sholeh itu. Rahasia membuat variasi kerapatan hasil tenunan, ungkap guru agama itu, adalah dari cara menghentakkan kayu bagian alat tenun. Semakin keras dihentakkan, maka kerapatannya akan semakin tinggi.
"Salur warna-warni dalam selembar kain dihasilkan dari benangnya, bukan dari celupan," ucapnya. Setiap kali akan menenun, setiap benang sudah diberi warna sendiri, sehingga warna yang dihasilkan dalam setiap helai kain merupakan "warna asli" kain itu.
Hal ini berbeda dengan beberapa jenis kain tenun yang pewarnaannya dilakukan usai kain selesai ditenun. "Khusus untuk tenun gedog batik, proses pembatikan dilakukan setelah kain putihan selesai ditenun. Prosesnya sama seperti membatik kain biasa," tambahnya.
Aslichah sendiri terus mengasah ide dan terus mengembangkan warna alam untuk batik buatannya. Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, percobaan demi percobaan dilakukannya. Inovasi untuk melahirkan warna alam sesuai dengan warna aslinya terus dimunculkan. "Semua daun, pohon serta tumbuhan sudah saya coba untuk mencari warna alam yang benar-benar alami. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelap-gelapan dan warna ini saya pertahankan sebagai identitas batik gedog Tuban," tuturnya.
Diceritakan, aslinya batik gedog Tuban berasal dari benang yang ditenun dengan cara tradisional. Kemudian kain hasil tenunan itu diberi batik dengan motif-motif khas seperti yang berkembang sekarang. “Karena itulah kemudian, batik itu dinamakan batik gedog,” ujarnya.
Meski diakui masih banyak kendala, Aslichah merasa sudah mantap untuk terus menggeluti dunia batik. “Batik gedog tidak akan pernah punah,” kata ibu empat anak yang telah memulai usaha batik sejak sekitar 17 tahun lalu. Bahkan, menurut keyakinannya, batik tulis gedog akan semakin dikenal dan memasyarakat karena proses pembuatannya unik dibanding dengan batik tulis lain yang tinggal membatik di atas selembar kain produksi pabrik.
"Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti panjiori, kenongo uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila malah dinyakini bisa menyembuhkan penyakit," ujarnya.
Motif-motif batik seperti itu, pada perkembangannya tak lagi pada kain tenun gedog semata. Oleh para perajin kemudian dikembangkan pada bahan-bahan kain lainnya, seperti kain katun dan lain-lain. “Itu merupakan salah satu tuntutan untuk memenuhi selera konsumen,” tambahnya.
Kalau semula kain batik tenun gedog terbatas hanya bisa dibuat untuk taplak meja, selendang, kemeja, kini sudah berkembang menjadi motif batik untuk kaos, daster dan pakaian wanita lainnya. Pada perkembangannya pula, menurut Aslichah, justru konsumen lokal banyak yang mencari batik kaos dan semacamnya. Sementara batik tenun gedog banyak dicari konsumen dari Bali atau turis mancanegara.

Pengembangan Pasar
Keunikan batik khas secara kualitas terus membaik. Bahkan menurut Suwoto, pedagang batik asal Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, pemerintah daerah Tuban menetapkan bahwa batik gedog Tuban sudah memenuhi kualitas ekspor. Negara yang menjadi langganan batik gedog Tuban sementara ini adalah Jepang. Selain itu, dalam jumlah kecil, negara seperti Australia dan Belanda juga sering memborong.
Hal itu, menurutnya, tidak terlepas dari keinginan masyarakat sendiri yang ingin mengenalkan batik gedog kepada masyarakat luar. Disamping juga pemerintah sendiri telah banyak membantu untuk pengembangan batik di Tuban. Bantuan itu mulai dari pelatihan-pelatihan, manajemen hingga pendanaan.
Suwoto, yang sudah memulai usaha batik sejak 1988, merasa terbantu ketika mendapat sokongan dana dari pemerintah senilai Rp 13 juta pada 2002 lalu. Modal itu kemudian dikembangkan Suwoto dengan memproduksi banyak batik. Suwoto mengaku, dirinyalah yang memulai membuat modifikasi batik ke kain-kain selain kain tenun gedog.
Seperti kaos dan daster ia buat batik ketika yang lain masih berkutat dengan batik tenun gedog. Saat itu sambutan pasar di luar perkiraan, sangat positif. Sehingga tak ayal, model modifikasi seperti itu diikuti oleh perajin dan pedagang batik tulis lainnya di Kecamatan Kerek.
Hingga kini, batik tulis produksinya sudah merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bali dan kota-kota lain di Jawa Timur. “Di Jakarta dan Bali kebetulan ada teman punya galeri dan minta dipasok batik tulis Tuban,” ungkapnya. Selain di kota-kota tersebut, pedagang yang didukung 57 perajin itu, juga gencar memasarkan batik karyanya di tempat-tempat wisata di Tuban. “Pedagang lain juga seperti itu, mereka juga buka dagangan di tempat-tempat wisata di Tuban, seperti di Bonang, dan lain-lain,” ucap wanita berjilbab yang punya tiga toko batik tulis gedog ini.
Namun, belakangan bantuan dari pemerintah itu tidak lagi mengucur, sehingga tingkat produksinya kembali menurun. Kondisi itu rupanya juga dialami banyak pedagang batik tulis gedog di Tuban. “Rata-rata mereka mengeluhkan kondisi yang sama. Katanya kalau bantuan itu sudah dikembalikan, maka pedagang bisa mendapat pinjaman lagi, tapi nyatanya tidak ada,” katanya, tandas.
Selain itu, pemerintah juga mewadahi para pedagang yang ingin memajang batik tulis karyanya dalam berbagai pameran. Baik pameran yang diadakan oleh pemerintah di Tuban, maupun di kota-kota lain. Suwoto sendiri kerap mengikuti pameran, seperti di Surabaya, Bali bahkan Yogyakarta. “Pameran itu bagian dari promosi kami, meski antara biaya pameran sering tidak nyucuk (sesuai, red) dengan pendapatan,” katanya. Yang penting, baginya, batik tulis gedog bisa dikenal masyarakat luas.

Seragam Dinas
Ujud kepedulian pemerintah Tuban lainnya adalah dengan adanya anjuran kepala daerah terhadap jajaran pemerintahannya. Menurut Aslichah, istri HM Soleh, Bupati Tuban menganjurkan kepada seluruh dinas untuk memakai seragam bermotif batik tulis khas Tuban. Memang kemeja yang dibuat bukan dari kain tenun gedog, tapi kain katun yang dibatik dengan batik tulis Tuban.
Diakui, adanya anjuran itu banyak memberi peluang kepada pedagang untuk melebarkan pasar ke berbagai ceruk potensial. Juragan yang dibantu 10 lebih tukang jahit itu, setiap tahun selalu kebanjiran order dari dinas-dinas. “Jumlahnya mencapai ribuan,” ungkapnya singkat. Bahkan, diakui, kalau kewalahan dia memborongkannya kepada tukang-tukang jahit kenalannya.
Anjuran kepala daerah itu bukan isapan jempol. Sebab, setiap Jumat para pejabat dari semua jajaran memakai seragam batik tulis Tuban. Selain para pejabat, PT Semen Gresik di Tuban juga punya program memakai seragam untuk seluruh karyawan. Biasanya dalam dua tahun sekali perusahaan semen itu memesan batik tulis Tuban. Jumlah pesanannya juga tidak main-main, Sekali pesan bisa mencapai 1.500 potong. Tapi belakangan jumlah pesanannya berkurang, hingga 1.200 saja.
Selain itu, pengurus Koperasi Kebonharjo milik Perhutani, juga memesan batik tulis untuk seragam anggotanya. “Banyak anggota koperasi di Tuban yang juga memesan batik tulis untuk dibuatkan seragam. Jumlah pesanan biasanya antara 300-500 potong,” tambahnya. Bahkan sekolah-sekolah mulai SD sampai tingkat menengah, juga menggunakan seragam berbatik tulis Tuban. Memang jumlahnya tidak banyak, “Biasanya sekitar 50-an potong untuk tiap tahunnya.” Namun diakui, model pesanan seperti itu banyak mendatangkan rezeki lebih kepada pedagang. Hanya saja, aku Aslichah, dirinya masih mengharapkan ada pesanan yang pasti, dalam tiap bulannya.
“Kalau ada seperti itu, usaha ini bisa ajeg pemasukannya. Sehingga kita tinggal mengembangkan pasar yang lebih luas, ke luar daerah atau bahkan mungkin ke luar negeri,” harapnya. “Hingga kini model pemasarannya hanya menunggu pembeli datang. Banyak juga pembeli dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jakarta, Surabaya dan Malang. Kebanyakan mereka yang datang ke sini, bukan kita yang menawarkan hingga ke luar daerah.” Namun, dirinya tetap akan berproduksi batik tulis gedog Tuban dalam kondisi apapun. ”Selagi punya duit untuk beli bahan, dan sanggup menggaji karyawan, saya akan terus membatik,” katanya tandas. -hm

0 komentar:

Poskan Komentar